Menu

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Rabu, 11 Agustus 2010

NILAI KEJUJURAN

Masing-masing individu tentusaja memiliki kadar  kejujuran  yang berbeda. Kalau misalnya saja dibuat semacam kulifikasi, maka kejujuran seseorang dapat diberi penilaian dengan angka atau jumlah tertentu, Sebagai contoh, mungkin nilai kejujuran si A hanya sampai 5 juta rupiah saja. artinya, kalau si A ini menemukan uang di tengah jalan sebesar 5 juta rupiah, maka uang tersebut akan dia kembalikan kepada si pemiliknya, atau paling tidak dia melaporkan penemuan ini kepada pihak yang berwajib. Tetapi kalau nilainya melebihi 5 juta, misalnya saja 100 juta, maka si A dengan diam-diam akan mengambilnya.

Itu hanyalah sebuah contih kecil yang sangat sederhana, tetapi sejatinya, kejujuran dapat dibedakan dalam dua bentuk. Pertama, Kejujuran terhadap diri sendiri yang diartikan sebagai suatu sikap yang lurus ketika seseorang dihadapkan kepada dua pilihan, baik dan buruk. Kedua, kejujuran terhadap orang lain yaitu sikap lurus seseorang saat melakukan komunikasi atau interaksi dengan orang lain.

Tetapi marilah kita bicarakan nilai kejujuran ini dalam skup yang lebih luas lagi, yakni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Contoh misal dalam pelaksanaan Pemilu Legislatif, kita secara gamblang bisa melihat bagaimana arti penting dari nilai kejujuran itu justru menjadi hampir tidak bernilai lagi. Demi jabatan yang diharapkan, hampir semua pelaku calon legislatif menjadi insan-insan yang mempermainkan nilai kejujuran. Mereka mengumbar janji, memberi sesuatu demi tercapainya tujuan, bahkan menistakan orang lain demi jabatan. Apakah politik itu memang tidak mengenal arti dari nilai kejujuran ?

Selama ini bangsa kita sepertinya memang tengah mengalami sakit yang parah, yaitu sakit mental, curang, pembohong, malas, kemaruk harta, pemarah, hilang kesopanan, dan ketidak jujuran telah menjadi kuman-kuman dari penyakit mental tersebut. Contoh paling gampang, kita tahu persis bahwa korupsi adalah larangan Tuhan, tetapi tetap saja banyak pejabat yang melanggarnya. Sunguuh mental meraka sakit dan perlu mendapatkan perawatan intensif.

Rasullah SAW. bersabda: " Jauhilah dusta karena dusta akan membawa kepada dosa dan dosa membawa keneraka. Biasakanlah berkata jujur, karena jujur akan membawamu ke surga." ( HR.Bukhari dan Muslim ). Karenanya, pribadi yang jujur merupakan roh kehidupan yang teramat fundamental, kerane setiap penyimpangan dari prinsip kejujuran pada hakekatnya akan berbenturan denga suara hati nurani.

Sesungguhnya nilai kejujuran adalah sebuah nilai yang bersifat fitrah. Mengapa ? karena nilai kejujuran merupakan salah satu dari lima unsur nilai dalam agama islam. Dengan demikian berarti nilai kejujuran erat kaitannya dengan nilai spiritual. Sedangkan nilai spiritual adalah nilai yang berhubungan dengan hal suci yang dianggap sakral. Nilai spiritual merupakan nilai yang tertinggi karena berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, yang dapat membantu manusia untuk mengetahui apakah yang dia lakukan benar atau salah.

Dewasa ini, betapa kita semua yang masih diberi keinsafan merasa amat sangat rindu melihat nilai-nilai kejujuran dalam lingkungan hidup, berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai kejujuran seakan telah terkalahkan dengan nafsu amarah, juga nafsu untuk menguasai, memiliki pangkat dan jabatan seakan tidak mau lepas, jatuh, atau pindah ketangan orang lain.
Lantas, kemana kita harus mencari secercah cahaya dari kejujuran yang bernilai tersebut ?
renungkanlah : " Dan bila kau diserahi sesuatu kekuasaan atas kaum, ketahuilah suatu saat kau akan diberhentikan juga ".

Semoga kita semua selalu dihindarkan dari nafsu-nafsu duniawi yang menghancurkan. Semoga kita semua selalu mampu untuk mengendalikan diri, sehingga nilai-nilai kejujuran dalam diri ini tercermin dalam setiap gerak dan langkah, juga hati kita.
Sayyidina Ali Berkata:" Letakkanlah dunia dalam genggaman tanganmu, jangan kau letakkan dalam hatimu, sebab karenanya engkau akan tergelincir ke neraka".
Sekali lagi, semoga kita menjadi hamba-hamba yang senantiasa menginsafi bahwa dunia bukanlah kehidupan yang sebenarnya, melainkan hanyalah ladang tempat kita bertanam.  ( Amin  )

2 komentar:

  1. trims buat perenungannya, inilah masalah terbesar bagi anggota DPR. mereka digaji besar untuk tidur,bolos dan cuek terhadap rakyat?, semoga 5 tahun kedepan kita lebih arif dalam memilih :)

    BalasHapus
  2. berkunjung malam mas... kunjungan balasan.....

    BalasHapus

Bila penyampaian ini masih kurang lengkap, mohon tambahkan, bila sudah, tinggalkan komentar, karena sayapun akan demikian.